Peringatan Sabtu Kelabu

Peringatan Sabtu Kelabu

Harian Umum Pikiran Rakyat Kamis, 5 Februari 2009 menurukan laporan utama mengenai Burgerkill yang menggelar penggalangan dana sebagai bekal mereka tur dalam rangka menembus pasar Australia dan mengemban amanat ekonomi kreatif Bandung. Semua menyambut dengan gegap gempita langkah Burgerkill ini, termasuk wakil gubernur Dede Yusuf yang hadir di malam penggalangan dana Rabu, 4 Februari 2009. Namun tahukah masyarakat luas, jika perjalanan band ini sepanjang tahun 2008 begitu penuh dengan pencekalan-pencekalan, terutama imbas dari tragedi AACC 9 Februari 2008?

Oleh Kimung

Dalam websitenya, www.supri-online.com, Supriyanto memaparkan, bahwa tahun 2007 adalah tahun yang fantastis, terutama bagi khalayak metal Indonesia. Sepanjang tahun 2007 banyak band internasional manggung di Indonesia. Setidaknya ada Dragonforce, Sodom, Suffocation, Napalm Death, The Black Dahlia Murder, dan rentetan lain yang manggung di kelas-kelas pergelaran komunitas hadir menyemarakkan musik tanah air. Belum lagi ditambah dengan membanjirnya rilisan-rilisan musisi metal dunia dan juga Indonesia yang pada mendominasi musik tanah air. Supriyanto menutup akhir tulisannya dengan optimisme bahwa tahun 2008 akan menjadi tahun yang tak kalah fantastis bagi khalayak musik Indonesia karena tahun itu akan begitu banyak rilisan dan terobosan kreatif dari lingkung musik ini. Dan memang, memasuki tahun 2008, optimisme itu terus bergejolak, terutama di Bandung sebagai barometer musik Indonesia. Bandung juga mulai didengungkan oleh masyarakat dan pemerintah sebagai kota kreatif. Kota ini malah tengah dipersiapkan oleh masyarakat dan pemerintah untuk menjadi salah satu kota dalam rangkaian kota-kota kreatif dunia.
Dan memang benar, awal tahun 2008 dibuka dengan semakin intensnya pertemuan Bandung Creative City Forum (BCCF) dalam merancang program-program kerja pengembangan ekonomi dan komunitas kreatif Bandung, pematangan rencana konser besar Bandung Berisik V oleh Ujungberung Rebels, kolaborasi Buregrkill – Pure Saturday, yang terus dilanjut dengan bedah buku biografi almarhum Ivan Firmansyah, vokalis Burgerkill, Myself : Scumbag Beyond Life and Death, di Selasar Sunaryo. Bedah buku tanggal 19 Januari 2008 yang menampilkan budayawan Bambang Sugiharto, psikolog Teddy Hidayat, sejarawan Reiza D. Dienaputra, serta musisi Andy Fadli ini menyodorkan lima wacana utama yang tersurat dalam buku Myself : Scumbag dan kemudian menjadi tugas bersama masyarakat kota Bandung. Lima wacana tersebut adalah masalah diskriminasi sosial, kesadaran akan kesehatan, dinamika komunitas kreatif, proses kreatif dalam kolaborasi antar hasrat musik, serta kampanye menulis dan mendokumentasikan aktivitas sehari-hari.

Namun demikian, memasuki bulan Februari 2008, gairah kreasi itu harus terbungkam tiba-tiba. Sebelas anak muda di komunitas musik metal Bandung, meninggal dalam kerusuhan seusai konser peluncuran album band metal Beside, Against Ourselves, di Gedung AACC tanggal 9 Februari 2008. Semua terhenyak. Langit cerah di atas komunitas yang sedang bergairah tiba-tiba berliput mendung yang pekat. Segala program yang telah direncanakan dengan matang oleh para penggiat kreativitas Bandung seketika buyar. Media mengekspos Insiden Sabtu Kelabu—begitu tragedi AACC sering disebut—dengan porsi yang tidak berimbang dan cenderung memojokan komunitas musik metal.

Satu hal yang tidak diketahui media saat itu adalah kenyataan bahwa salah satu kekuatan terpenting dari kreativitas di Kota Bandung berawal dari komunitas musik ini dan setelah eksis selama dua puluh tahun, mereka berkembang dengan cepat baik secara kualitas maupun kuantitas, menjelma menjadi kloting, distro, label musik, perusahaan rekaman, desainer, penggiat literasi, aktivis lingkungan hidup, aktivis hukum dan HAM, dan ranah-ranah kreativitas lain. Peran teknologi terutama optimalisasi internet sangat membantu perkembangan komunitas kreatif Bandung ini.

Maka ketika media memojokkan satu lingkup musik—dalam hal ini band Beside dan komunitas musik metal—kontan memunculkan rasa solidaritas di kalangan lingkup kreativitas yang lain. Mereka yakin jika, kesalahan Insiden Sabtu Kelabu, tidak mutlak ada di panitia penyelenggara pergelaran, namun juga dari masyarakat, pemerintah, dan kepolisian. Intinya semua lolos menangkap arus gejolak kreativitas anak-anak muda Bandung kini secara utuh dan proporsional. Pemerintah, misalnya, dianggap gagal memfasilitasi musisi-musisi muda untuk menampilkan karya-karya musik mereka. Adalah hal yang miris jika mengingat Bandung sebagai barometer musik Indonesia namun ternyata sama sekali tak memiliki sarana pergelaran musik yang memadai dan dapat menampung massa yang kini mencapai 30.000 penggemar musik. Kepolisian pun dinilai gagal menjalankan tugas karena ternyata dalam Insiden Sabtu Kelabu, pengamanan yang dilakukan pihak kepolisian terbukti tidak efektif bahkan dapat dikatakan kontra produktif. Pun demikian halnya dengan masyarakat komunitas musik yang dinilai gagal memberikan audiens development yang baik kepada kaum-kaum muda yang muncul di tahun 2000.

Maka atas kesadaran itulah, elemen-elemen komunitas kreatif Bandung menganggap penting adanya suatu kesamaan visi dan misi antara masyarakat, pemerintah, dan kepolisian dalam rangka mewujudkan impian Bandung sebagai kota kreatif yang didukung situasi yang kondusif dan berkualitas. Berbagai diskusi dan acara kreativitas yang melibatkan pemerintah dan kepolisian digelar untuk merumuskan solusi bersama. Tujuh hari pertama setelah insiden, tercatat sedikitnya tiga pertemuan publik digelar.
Diawali oleh pertemuan Solidaritas Independen Bandung (SIB) yang terdiri dari elemen-elemen kreativitas Bandung sehari setelah Insiden Sabtu Kelabu yang menyatakan belasungkawa sedalam-dalamnya bagi para korban serta menegaskan untuk segera melakukan konsolidasi dengan seluruh pihak terkait Insiden Sabtu Kelabu, membangun opini pembanding di media mengenai insiden, penggalangan dana untuk para korban meninggal dunia dan luka, melakukan upaya edukasi antar dan antara individu penggiat kultur independen, serta pemberdayaan komunitas secara menyeluruh. Setelah itu menyusul diskusi publik “Si Kumis dan Begundal di Ujungberung Rebels : Diskusi Nihilisme Nietzsche, Ivan Scumbag, dan Dinamika Ujungberung Rebels” yang diselenggarakan Jurusan Sastra Jerman STBA Bandung yang mengeaskan Insiden Sabtu Kelabu sebagai ajang introspeksi dan konsolidasi yang lebih kuat di kalangan komuitas independen Bandung.

Di hari ketujuh setelah insiden, digelar acara “Equal Fest dan Malam Seribu Lilin”, tanggal 16 Februari 2008, di Dago Tea Huis dan Gedung AACC. Acara ini digelar oleh Rumah Cemara dan SIB dan tercatat sebagai konsolidasi pertama komunitas dengan pemerintah dengan mengetengahkan Addy Gembel dan Kimung (Ujungberung Rebels), psikolog dr. Teddy Hidayat, Tisna Sanjaya, Yesmil Anwar, I. Budhyana (Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Barat), Marsion (Orang Tua Korban Almarhum Ahmad Wahyu Effendi), serta Gustaff H. Iskandar sebagai moderator. Pihak kepolisian daerah Jawa Barat yang juga diundang, tidak hadir saat itu. Padahal acara ini bagaikan pencanangan komunitas kreatif Bandung sebagai komunitas yang inklusif, terbuka dengan berbagai komuitas lain termasuk pemerintah sebagai komunitas para birokrat dan kepolisian sebagai komunitas para pengayom. Namun demikian, pihak kepolisian menyediakan pasukan untuk ketertiban. Acara kemudian berlanjut ke tabur bunga dan doa bersama di halaman gedung AACC.

Sementara itu gerilya di media tak putus-putus dilakukan para penggiat kreativitas Bandung untuk memberikan gambaran yang berimbang mengenai komunitas ini kepada masyarakat. Namun gencarnya pengimbangan opini, tidak berbanding lurus dengan respon kepolisian. Sejak insiden, kepolisian mengevaluasi seluruh izin yang dikeluarkan dan cenderung semakin mengetatkan izin keramaian suatu acara. Sebuah kondisi yang ironis jka menginagt bahwa untuk melakukan pengimbangan opini masyarakat yang nyata pihak komunitas kreatif membutuhkan ruang dan waktu untuk berekspresi dalam ruang lingkup massa yang banyak. Masa inilah isu mengenai pencekalan band-band yang berpotensi mengundang massa banyak merebak.

Burgerkill, Jeruji, Pure Saturday, dan Beside adalah band-band tersebut. Burgerkill tercatat gagal membuka konser band heavy metal Jerman Helloween tanggal 22 Februari 2008, selain juga sederet panggung di Bandung dan Jakarta karena pihak kepolisian. Pergelaran-pergelaran juga semakin sulit dilakukan. Kondisi ini semakin parah dengan merebak isu standarisasi event organizer yang dianggap berbau monopoli. Kondisi ini terus bergerak hingga kemudian di hari ke empat puluh setelah insiden, SIB mencanangkan kampanye “Melawan Lupa” yang pada esensinya adalah penyadaran komunitas untuk senantiasa berkaca pada sejarah dan karenanya diperlukan pendidikan komunitas yang digarap dengan inklusif, terencana, terintegrasi, dan berkelanjutan. Kampanye ini dicanangkan di Commonroom tanggal 16 Maret 2008.

Konsolidasi yang erat dengan kepolisan mulai terjalin dalam diskusi publik yang digelar komunitas literasi Bandung bertema “Komunitas Literasi Underground, Bangkitlah!”. Acara ini digelar di Indonesia Menggugat, dihadiri oleh Bambang Sugiharto, Kimung, Uyung Carrey, Askary Wirantaatmaja dari Dinas Pariwisata Daerah (Diparda) Kota Bandung, Erwan Juhara (Humas IKAPI Jabar), Komisaris Polisi Oo Rusdita (Waka SatIntel Polwitabes Bandung), serta dihadiri berbagai elemen komunitas kreatif Bandung. Dalam diskusi itu pihak kepolisian mnegeaskan dukungannnya terhadap dinamika kreativitas di Bandung asal dilakukan dalam prosedur yang baik.

Maka demikianlah, kegiatan pembelajaran dan pembangunan sumber daya manusia di komuntas kreatif Bandung terus dilanjutkan hingga kini. Berbagai pergelaran musik, diskusi-diskusi, pameran dan workshop digelar. Berbagai bakat muda digali potensinya dalam program-program belajar bersama yang aplikatif. Sejarah mencatat, dinamika Indonesia tahun 1908, 1928, 1945, 1966, 1998, dan hingga hari ini digerakkan oleh kaum muda yang konsisten dan berkomitmen. Konsistensi dan komitmen inilah yang kini mengantarkan Burgerkill ke jalanan menuju Australia, tentunya setelah sebelumnya melalui jalanan terjal dan gelombang-gelombang besar dinamika kreativitas Bandung yang begitu cepat dan mengasyikan.

Kimung adalah guru dan penulis

 


Leave a Reply

comments-bottom

Featured Posts

Sensor CCD dan CMOS Posted by author icon admin Oct 10th, 2011 | no responses
2007 : Tahun yang Fa... Posted by author icon admin Oct 10th, 2011 | no responses
Tips Membeli Kamera ... Posted by author icon admin Oct 10th, 2011 | no responses

Random Posts

Hail-o ..!!! Posted by author icon admin Oct 5th, 2011 | Comments Off
Helloween – Ga... Posted by author icon admin Oct 9th, 2011 | no responses

Top Rated Posts

Sensor CCD dan CMOS Posted by author icon admin
Google Analytics plugin by forextrading7
Seo 1 plugin by casino-riva online